Senja dipenghujung Juli
![]() |
| Penulis/penerbit : wahyu |
Di penghujung Juli, senja turun perlahan seperti doa yang tak pernah selesai diucapkan. Langit memerah, lalu menjingga, seolah sedang menuliskan kisah-kisah yang selama ini dipendam oleh waktu. Angin membawa aroma rindu yang entah untuk siapa, sementara matahari memilih tenggelam tanpa meninggalkan sepatah kata. Barangkali, ada perpisahan yang memang lebih indah jika disampaikan lewat diam.
Juli telah menjadi rumah bagi begitu banyak cerita. Ada tawa yang sempat memenuhi ruang hati, ada air mata yang diam-diam jatuh tanpa saksi. Ada harapan yang tumbuh setinggi langit, lalu gugur sebelum sempat berbunga. Namun waktu tak pernah meminta kita berhenti. Ia hanya mengajarkan bahwa setiap kehilangan adalah cara semesta mempersiapkan ruang bagi sesuatu yang lebih berarti.
Senja tak pernah melawan datangnya malam. Ia merelakan cahayanya larut bersama cakrawala, seolah tahu bahwa keindahan tak selalu harus
dipertahankan. Bukankah hidup juga demikian? Ada orang-orang yang hanya singgah untuk mengajarkan arti pertemuan, lalu pergi agar kita memahami makna keikhlasan.
Di bawah langit yang mulai dipenuhi warna ungu dan jingga, hati belajar menerima bahwa tidak semua doa dijawab sesuai keinginan. Sebagian dikabulkan dalam bentuk kekuatan, sebagian lagi dalam bentuk kesabaran. Dan sebagian yang lain, dibiarkan menggantung agar kita terus percaya bahwa harapan selalu memiliki jalan pulang.
Maka biarlah senja di penghujung Juli menjadi saksi. Saksi bahwa kita pernah bertahan ketika dunia terasa begitu berat, pernah tersenyum meski hati retak, dan pernah percaya meski berkali-kali dikecewakan. Sebab keberanian bukan tentang tak pernah jatuh, melainkan tentang tetap melangkah meski luka masih menggenggam langkah.
Ketika cahaya terakhir akhirnya menghilang di balik cakrawala, Juli pun menutup lembarannya dengan tenang. Tak ada yang benar-benar berakhir yang ada hanyalah waktu yang terus mengalir menuju musim berikutnya. Dan jika esok adalah halaman baru, semoga hati datang tanpa dendam, langkah hadir tanpa ragu, dan doa tetap tumbuh seperti matahari yang selalu setia kembali setelah setiap senja yang pergi.

Komentar
Posting Komentar