Demokrasi Palsu



Mereka menyebutnya demokrasi,tetapi suara rakyat hanya menjadi gema yang hilang di ruang kekuasaan.Pemilu digelar meriah, janji diumbar di setiap sudut jalan,namun setelah kursi didapat, rakyat kembali dilupakan.

 

Demokrasi seharusnya memberi ruang bagi kebebasan,menghargai kritik, dan mendengar suara yang berbeda.Namun dalam realitas hari ini, kita menyaksikan ketika sebuah kritik dianggap sebuah ancaman, sebuah perbedaan dianggap sebagai musuh,dan hukum sering kali tajam ke bawah namun tumpul ke atas.

Rakyat sering diberi hak memilih,tetapi pilihan yang tersedia sering dibatasi oleh kepentingan elite.Partisipasi dipuji saat dibutuhkan,namun aspirasi diabaikan ketika bertentangan dengan kekuasaan.


Demokrasi bukan sekadar kotak suara dan seremonial lima tahunan. Demokrasi adalah keadilan, keterbukaan, dan keberpihakan pada rakyat.Ketika nilai-nilai itu hilang, yang tersisa hanyalah panggung megah bernama demokrasi,dengan naskah yang telah ditulis oleh segelintir orang.


Maka sudah menjadi kewajiban dan tugas kita semua, bukan hanya memilih,tetapi juga mengawasi, mengkritisi, dan menjaga agar demokrasi tetap hidup.Sebab demokrasi sejatinya lahir dari keberanian rakyat untuk bersuara,bukan dari kemewahan simbolik yang menutupi kenyataan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang pulang yang adalah kita

Senja membelai jiwa yang lara

Keindahan alam dan keserakahan manusia